60 Negara Hadiri Pameran dan Simposium Semen di Bandung

0
175

Destinasi Bandung-60 Negara Hadiri Pameran dan Simposium Semen di Bandung. Indonesia menjadi tuan rumah The 25th ASEAN Federation of Cement Manufacturers (AFCM) Technical Symposium and Exhibition yang digelar di Trans Convention Centre – The Trans Luxury Hotel, 4-6 April 2018 dengan mengusung tema “Green Technology for Cement Industry”. Acara yang terdiri dari simposium dan pameran ini dihadiri oleh 400 peserta dari 60 negara dan lebih dari 50 (lima puluh) peserta pameran (exhibitor) yang terdiri dari perusahaan machinery supplier di industri semen Asia dan Eropa. Bertindak sebagai tuan rumah adalah Asosiasi Semen Indonesia (ASI) yang merupakan anggota ASEAN Federation of Cement Manufacturers (AFCM) yang berkantor pusat di Malaysia.

Menurut Ir. Widodo Santoso, MBA, Ketua Asosiasi Semen Indonesia (ASI), The 25th ASEAN Federation of Cement Manufactureres (AFCM) Technical Symposium and Exhibition merupakan forum berskala internasional yang penting untuk pengembangan pengetahuan akan teknologi operasi pabrik yang efektif dan efisien sekaligus ramah lingkungan. Ajang ini mempertemukan produser semen serta industri pendukungnya dari negara-negara di kawasan ASEAN dalam suatu rangkaian simposium dan pameran.

“AFCM merupakan suatu forum untuk bertukar informasi tentang teknologi bidang produksi semen serta industri yang terkait, yang akan mendiskusikan berbagai topik menarik dan terkini berkaitan dengan teknologi terkini serta proteksi lingkungan berkaitan dengan industri semen. Namun yang terpenting, simposium dan pameran ini dimaksudkan untuk mendorong produksi semen dan clinker di tingkat nasional dan ASEAN. Seperti kita ketahui, saat ini produksi semen mengalami pertumbuhan,” lanjut Widodo Santoso.

“Sepanjang dua tahun terakhir Indonesia mengalami kelebihan pasokan semen. Tahun 2017, total kapasitas produksi semen tahunan Indonesia meningkat menjadi 107,9 juta ton. Kapasitas produksi semen dalam negeri masih akan terus meningkat, diantaranya disumbangkan oleh Conch Cement Indonesia di Sulawesi Utara yang mulai berproduksi tahun 2018 dengan kapasitas 1,7 juta ton/tahun, menjadikan Indonesia sebagai produsen semen terbesar di kawasan ASEAN dan Asia Pasifik,” tambah Widodo Santoso.

Industri semen di Indonesia juga sangat aktif selama kurun waktu dua tahun terakhir ini. Tahun 2017, penjualan domestik naik menjadi 66,3 juta ton (pertumbuhan 7,7% year on year (yoy) dan penjualan ekspor naik menjadi 2,95 ton (pertumbuhan 84% yoy), dibanding tahun sebelumnya, yaitu 62 juta ton penjualan domestik dan 1,6 juta ton penjualan ekspor. Pertumbuhan konsumsi semen domestik didorong oleh proyek-proyek infrastruktur pemerintah seperti jalan tol untuk Jawa, Sumatera, Kalimantan, dan Sulawesi, smelter, petrokimia, pembangkit listrik, proyek MRT di Jakarta, kereta api, dan perkembangan pelabuhan dan bandara di seluruh wilayah di Indonesia. Pulau Jawa dan Sumatera tercatat sebagai konsumen semen terbesar di dalam negeri dan mencatat pertumbuhan konsumsi terbesar pada tahun 2017. Pertumbuhan permintaan di Jawa mencapai 12,3% dan Sumatera 4,9% yoy di tahun 2017, sementara itu pertumbuhan semen permintaan di Indonesia bagian timur masih stagnan.

Data menunjukkan, industri semen di tanah air didominasi oleh tiga produsen utama, yaitu Semen Indonesia sebagai perusahaan BUMN produsen semen terbesar dengan pangsa pasar 43% diikuti oleh Indocement Tunggal Prakarsa dengan pangsa pasar 28% dan Lafarge-Holcim Indonesia. PT Semen Indonesia (Persero) Tbk (Semen Gresik 1957, Semen Padang 1910, Semen Tonasa 1968) dan kapasitas produksinya mencapai 37 juta ton per tahun pada akhir tahun 2017. Indocement didirikan pada tahun 1975 dan memproduksi merek Tiga Roda dari semen, dengan total kapasitas desain terpasang sebesar 25,5 juta ton pada tahun 2017. Lafarge-Holcim memegang pangsa pasar sekitar 14% di Indonesia, dengan kapasitas produksi gabungan semen sebesar 15,5 juta ton. Sebagian besar produsen semen Indonesia berlokasi di Jawa dan Sumatera dimana kedua pulau ini merupakan konsumen semen terbesar, dan populasi terbesar di Indonesia diikuti oleh Sumatera.

Pertumbuhan ekspor menjadi tantangan bagi produsen semen di Indonesia, meskipun saat ini ekspor semen dan clinker dari Indonesia jauh melampaui penjualan domestik. Menurut data tahun 2017, pasar yang paling berpotensi bagi pertumbuhan ekspor semen meliputi Bangladesh, benua Afrika, Australia, Filipina dan Timur Tengah.

“Diharapkan seluruh pelaku industri semen di Indonesia pada khususnya dan ASEAN pada umumnya, dapat mengambil manfaat dari penyelenggaraan The 25th ASEAN Federation of Cement Manufactureres (AFCM) Technical Symposium and Exhibition. Disamping itu, event ini berfungsi sebagai forum pertukaran informasi, pengetahuan, dan pengalaman, sekaligus ajang networking dan menjalin persahabatan antar anggota dan peserta,” lanjut Widodo Santoso.

Anggota Asosiasi Semen Indonesia (ASI) saat ini, yaitu PT Semen Padang, PT Semen Gresik, PT Semen Tonasa, PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk, Semen Baturaja, PT Holcim Indonesia, PT Semen Baturaja (Persero), PT Semen Kupang, PT Semen Bosowa Maros, PT Cemindo Gemilang, PT Juishin Indonesia, PT Sinar Tambang Arthalestari, PT Semen Jawa, dan PT Conch Cement Indonesia.

“Kami mengundang seluruh pelaku industri semen serta industri terkait di Indonesia untuk berinteraksi, berbagi, dan mempelajari perkembangan terakhir teknologi produksi semen yang memiliki implikasi luas terhadap bidang-bidang terkait lainnya, yang pada akhirnya akan memberikan kontribusi terhadap kemajuan industri semen Indonesia. The 25th ASEAN Federation of Cement Manufactureres (AFCM) Technical Symposium and Exhibition menampilkan 24 presentasi dari para ahli persemenan dunia dengan sub tema antara lain, yaitu carbon dioxide, reduction initiative, waste heat recovery generation, alternative fuel, dan masih banyak lagi,” tutup Widodo Santoso.

ASEAN Federation of Cement Manufacturers (AFCM) merupakan kumpulan Asosiasi Produsen Semen se-ASEAN yang didirikan pada tahun 1977, dan memiliki tujuh anggota, yaitu Brunei Darussalam (Butra Heidelberg Cement Sdh), Indonesia (Indonesia Cement Association), Filipina (The Cement Manufacturers Association of the Philippinies), Malaysia (The Cement & Concrete Association of Malaysia), Thailand (Thai Cement Manufacturers Association), Singapura (The Cement Manufacturers Association of Singapore), dan Vietnam (Vietnam National Cement Association). AFCM Technical Symposium and Exhibition diselenggarakan setiap tiga tahun sekali secara bergiliran di negara-negara anggota. Sebelumnya, Indonesia telah dua kali menjadi tuan rumah AFCM Technical Symposium and Exhibition pada tahun 1996 dan 2006.

Comments

Komentar Disini