Badan PerfiIman Indonesia Gelar Pameran Kostum Film Indonesia

0
55

Destinasi Bandung- Badan PerfiIman Indonesia Gelar Pameran Kostum Film Indonesia. Dalam rangka Hari Film Nasional (HFN) ke-69 yang jatuh pada tanggal 30 Maret 2019, Badan Perfilman Indonesia bekerjasama dengan Pusbang Film menyelenggarakan serangkaian kegiatan perfilman di Indonesia. Salah satunya adalah Film Art Exhibition 2019 yang dilakukan di Atrium 23, Pasir Kaliki Shopping Centre, Bandung mulai 27 Maret sampai 31 Maret 2019. Bertemakan Film Indonesia Keren, penyelenggaraan Film Art Exhibition 2019 bertujuan untuk mendekatkan ekosistem film nasional kepada masyarakat luas melalui pameran kostum dan properti film.

Pameran kostum film Indonesia di tempat komersial, belum pernah diadakan sebelumnya. Sejalan dengan membaiknya industri perfilman tanah air, maka diperlukan aktivitas pendorong agar masyarakat lebih mengenal proses yang terjadi dalam membuat sebuah film, khususnya film Indonesia. Diharapkan sesudahnya akan tumbuh rasa antusias dan cinta pada film lokal.

Ada 7 (tujuh) film yang kostumnya ditampilkan yaitu : Dilan 1991, Warkop DKI Reborn, Pengabdi Setan, Soekarno, Sultan Agung, Video Pembuka Asian Games (Jokowi Motor Terbang), Satria Dewa Gatot Kaca.

Pemilihan filmnya berdasarkan pertimbangan box office (Dilan 1991, DKI Reborn, Pengabdi Setan), film sejarah dan kepemimpinan (Soekarno dan Sultan Agung), video fenomenal yang diakui dunia (Jokowi Motor Terbang) dan film superhero lokal yang akan tayang (Satria Dewa Gatot Kaca).

“Para desainer kostum film ini adalah para orang cerdas yang memiliki kemampuan mumpuni untuk menerjemahkan karakter pengguna kostum berdasarkan skenario. Mereka juga memiliki kemampuan tinggi untuk menelaah sejarah peradaban ataupun berimajinasi tentang masa depan. Oleh karena mereka dapat dikatakan sebagai orang-orang keren yang menghasilkan film keren,” ujar Celerina Judisari sebagai penggagas dan Creative Director Film Art Exhibition 2019.

Selama ini masyarakat lebih mengenal profesi produser, sutradara, kameramen, editor dan aktris, tetapi kurang mengetahui profesi penata busana atau pengarah artistik di industri film. “Saatnya bagi kami untuk mengedepankan mereka kepada masyarakat luas,”katanya.

Sementara itu Ketua Umum Badan Perfilman Indonesia (BPI) Chand Parwez mengatakan, bahwa perkembangan film Indonesia menunjukan data menggembirakan. Semakin banyak karya sineas Indonesia diapresiasi secara internasional.

“Tapi yang terpenting adalah tumbuhnya kepercayaan penonton Indonesia atas karya lokal. Hal ini tercermin dari peningkatan jumlah penonton film Indonesia dari tahun ke tahun,”katanya.

Kepercayaan penonton ini menjadi pegangan bagi para sineas untuk menciptakan karya-karya yang lebih baik lagi setiap waktu. Untuk itu selalu dilakukan alih ilmu dari para senior kepada para junior agar terjadi pemerataan kualitas keahlian melaui workshop-workshop film, sebagaimana yang juga dilakukan pada rangkaian acara Film Art Exhibition 2019. Kali ini workshop film ditujukan bagi para pemula dan akan dilaksanakan selama 3 (tiga) hari dari tanggal 29 Maret – 31 Maret 2019 di tempat yang sama. Acara lainnya adalah nonton bareng film Sultan Agung di CGV.

“Diharapkan dengan rangkaian kegiatan di atas, maka Film Art Exhibition 2019 dapat menjadi jembatan baru bagi para pelaku film dan penonton. Film tidak hanya bisa dinikmati melalui layar lebar, namun juga melalui pameran-pameran di tempat-tempat terbuka dan komersial,”pungkasnya.

Comments

Komentar Disini