Bio Farma Gelar Forum Riset Produk Life Science Nasional 2017

0
163
Direktur Riset & Pengembangan Bio Farma Sugeng Raharso, Ketua Panitia FRLN 2017 Maharani dan Head of Corporate Communications Bio Farma Nurlaela Arief / Destinasi Bandung

Destinasi Bandung- Bio Farma Gelar Forum Riset Produk Life Science Nasional 2017 . Bio Farma kembali akan menggelar Forum Riset Life Science Nasional ke tujuh pada tanggal 29-30 Agustus 2017 di Jakarta. Kegiatan ini sebagai tindak lanjut dari Simposium Forum Riset Produk Life Science Nasional (FRLN) 2016, dalam simposium FRLN 2017 ini mengusung tema ” Kemandirian Bangsa Dalam Riset dan Inovasi Bidang Life Science”. Simposium ini bertujuan untuk percepatan kemandirian riset life sciences di dalam negeri.

“Simposium ini kami gelar sebagai realisasi dan tindak lanjut komitmen pemerintah, untuk memberikan obat murah dan berkualitas pada masyarakat Indonesia, dikuatkan oleh Presiden dengan mengeluarkan Instriksi Presiden nomor 6 tahun 2016 mengenai percepatan pengembangan industri farmasi dan alat kesehatan,”ujar Direktur Riset dan Pengembangan Bio Farma, Sugeng Raharso kepada wartawan di Justus Cafe Jalan Banda Bandung, Selasa (4/7/2017).

Lebih lanjut Sugeng mengatakan, percepatan dimaksudkan untuk memujudkan kemandirian industri farmasi dalam pengembangan produk maupun bahan baku dan alat kesehatan. Salah satu hal terpenting dalam pengembangan produk maupun bahan baku dan alat kesehatan di industri farmasi adalah penguasaan teknologi yang menjadi faktor penentu.

Untuk mewujudkan hal ini perlu riset dan inovasi yang didukung secara penuh oleh pemerintah. Pada umumnya sebagian besar teknologi di bidang life science di Indonesia didapat melalui kerjasama dengan negara-negara maju melalui transfer teknologi. Pengembangan produk life science sangat memerlukan kemandirian di bidang teknologi, sehingga produk-produk yang dihasilkan akan mampu bersaing di pasar Internasional.

“Kegiatan yang sudah di adakan sejak tahun 2011 nantinya produk-produknya bisa di hilirisasi ke industri, dengan demikian tidak tergantung kepada produk-produk luar negeri. Untuk tahun ini akan hadir sekitar 350 sampai 400 peneliti, ada narasumber dari luar negeri seperti Australia dan Jepang supaya update informasi teknologi terkini. Jadi peneliti-peneliti Indonesia dapat mengupdate pengetahuannya terhadap informasi teknologi terkini saat ini,”ujarnya.

Pada kesempatan tersebut , untuk mengurangi ketergantungan teknologi negara lain, Bio Farma bersama Kementerian Riset dan Teknologi Republik Indonesia dan Kementrian Kesehatan Republik Indonesia mendorong percepatan kemandirian riset bidang life science melalui sinergi yang berkelanjutan bersama akademisi dan pemerintah. Bio Farma sebagai industri life science yang telah lama memiliki unit riset dan pengembangan, berpartner dengan lembaga penelitian maupun Universitas di dalam negeri.

Menurutnya, untuk percepatan masih diperlukan langkah-langkah untuk mempercepat terwujudnya kemandirian riset life science di Indonesia. Salah satu langkah yang perlu dirumuskan lebih lanjut adalah pentingnya keterlibatan periset , baik dari Universitas, lembaga penelitian, regulator yaitu badan POM, maupun industri dalam berbagai penelitian dasar bidang life science di dunia. Disamping juga dukungan Pemerintah berupa peningkatan anggaran riset akan sangat berarti bagi percepatan kemandirian riset life science di dalam negeri.

“Manfaatnya supaya apa yang diteliti oleh peneliti -peneliti Indonesia dalam bidang kesehatan ini terhubung dengan industri karena kalau tidak , hanya menjadi laporan-laporan yang tidak dapat menghasilkan produk, dan tidak mendorong kemandirian. Dengan adanya industri masuk di harapkan ada outputnya,”tegasnya.

Sementara itu ketua panitia Forum Riset Life Science Nasional (FRLN) 2017 Maharani mengatakan, Beberapa konsorsium penelitian sebagai hasil sinergi adalah konsorsium TBC, HIV, Hepatitis B, Stem Cell, EPO, dan Dengue.

“Kami bersinergi dengan berbagai pihak , jalinan, kerjasama tersebut, terbukti mampu mengarahkan lembaga penelitian maupun Universitas untuk hilirisasi produk life science sehingga bisa mandiri, dan dihasilkan peneliti anak bangsa seperti dari Universitas dan lembaga penelitian. Forum ini digelar untuk mengurangi ketergantungan teknologi dari negara lain sehingga masyarakat Indonesia lebih mudah dalam mendapatkan produk life science tersebut,”pungkasnya.

Comments

Komentar Disini