Bio Farma Percepat Penemuan Vaksin & Produk Life Science di FRLN

0
28

Destinasi Bandung- Bio Farma Percepat Penemuan Vaksin & Produk Life Science di FRLN. Bio Farma kembali mengumpulkan para peneliti level nasional untuk berdiskusi bersama, dalam rangkaian acara Forum Riset Life Science Nasional (FRLN), yang akan diselenggarakan pada tanggal 13 September 2018 di Jakarta. Kegiatan yang bertema “Riset dan Inovasi Bidang Life Science yang Berkelanjutan di Indonesia” bertujuan membangun sinergi antara Pemerintah, Perguruan Tinggi, Industri serta Komunitas pendukungnya, sebagai upaya mempercepat pengembangan vaksin dan produk life science oleh para peneliti di dalam negeri.

Menurut Direktur Riset dan Pengembangan Bio Farma, Adriansjah Azhari sesuai dengan Instruksi Presiden No 6 Tahun 2016 mengenai Percepatan Pengembangan Industri Farmasi dan Alat Kesehatan, Bio Farma terus melakukan upaya percepatan dan kemandirian dalam pengembangan produk vaksin dan life science.

“Ini misi besar Bio Farma untuk bangsa. Kami ingin menjadi lokomotif riset life science di Indonesia. Bio Farma tengah bekerja keras mempercepat hilirisasi dan peluncuran produk life science hasil riset peneliti dalam negeri melalui kerjasama yang erat dengan Pemerintah, temasuk dengan badan regulator, dan merangkul para peneliti dari akademisi, lembaga riset, maupun komunitas. Saya optimis dengan kerjasama yang baik, aktifitas riset para peneliti nasional bisa menghasilkan produk-produk baru tepat waktu dan sesuai kebutuhan masyarakat luas,” ujar Adriansjah.

Adriansjah yang juga seorang pakar current Good Manufacturing Practice (cGMP), dan pernah menjadi tenaga ahli CPOB BPOM, mengatakan bahwa dirinya mewakili Bio Farma sangat bangga dengan pencapaian FRLN.

“Dua jempol buat mereka!. Saya angkat jempol tinggi-tinggi dengan raihan peneliti FRLN! Peneliti life science Indonesia kemampuannya tidak kalah dari peneliti negara maju. Bangsa Indonesia layak bangga pada prestasi rekan-rekan peneliti yang di tengah berbagai keterbatasan masih mampu menunjukkan hasil kerja nyata. Nanti pada saat FRLN 2018 akan ada peluncuran prototipe kit HbsAg dan dan kit antiHBsAg hasil karya peneliti FRLN, yang masing-masing berfungsi untuk mendeteksi virus HbsAg dan mendeteksi keberhasilan imunisasi” kata direktur yang berpengalaman mengkomandoi kerjasama riset internasional Bio Farma dengan institusi-institusi riset di negara maju,”katanya.

Neni Nurainy, peneliti senior Bio Farma sekaligus Ketua Panitia FRLN 2018, menjelaskan lebih lanjut bahwa kit hasil kolaborasi antara Bio Farma, & ITB tersebut merupakan penelitian lanjutan dari Konsorsium Hepatitis B yang terdiri dari Lembaga Eijkman, ITB, BPPT dan Bio Farma. Kit HbsAg memiliki keunggulan dibanding kit diagnostik tipe screening yang ada di pasaran, yaitu mampu mendeteksi titer virus secara kuantitatif. Sehingga hasil diagnosa yang didapat akan lebih akurat menggambarkan kondisi pasien yang diperiksa dibanding kit screening yang hanya memberi hasil positif dan negatif.

Doktor biomedical yang sudah lama berkecimpung pada riset vaksin rekombinan ini sangat optimis bahwa kehadiran kit diagnostik yang didanai Riset Pro LPDP – bisa menjadi jawaban atas kebutuhan masyarakat untuk melindungi diri dari ancaman infeksi virus Hepatitis B yang merupakan ancaman nyata. Pada tahun 2017 diperkirakan virus ini telah menginfeksi 7,1% dari penduduk Indonesia.

Kendala Penelitian Life Science

Namun dibalik keberhasilan yang dicapai dengan susah payah tersebut, menurut Neni tersimpan kendala besar. Kebutuhan mendesak saat ini untuk menjaga keberlanjutan riset life science adalah ketersediaan pendanaan riset jangka panjang atau multi years untuk kelanjutan riset dari awal sampai menghasilkan luaran berupa produk.

“Para peneliti mengeluhkan jangka waktu pendanaan yang pendek, tidak berkelanjutan. Kadang satu tahun kami dapat dana, tetapi tahun berikutnya kosong, jadinya target roadmap penelitian kami tidak tercapai. Pendanaan penelitian jangka panjang kami masih diperlakukan secara competitive based – bersaing dengan banyak proposal penelitian baru. Terkadang konsorsium gagal mendapat pendanaan karena persyaratan administrasi yang tidak terpenuhi. Kami mengharapkan konsorsium riset yang telah terpilih secara kompetitif tidak perlu bersaing lagi di tahun berikutnya. Peneliti memerlukan pendanaan jangka panjang sampai prototipe produk siap diluncurkan” lanjut Neni

Lebih jauh Neni menjelaskan untuk mengatasi kendala tersebut pada FRLN 2018 akan dihadirkan narasumber dari Kemenristek Dikti, Kemenkeu/LPDP, Kemenkes dan Bapenas selaku pengelola dana penelitian milik pemerintah. Diharapkan akan ditemukan solusi jangka panjang. Terutama pembiayaan untuk riset-riset rintisan yang tidak feasible untuk dibiayai industri karena tahapannya masih terlalu dini, dan risikonya terlalu besar karena jauh dari tahapan riset yang layak ditindaklanjuti oleh industri.

Peneliti yang juga salah satu pelopor kolaborasi riset antar institusi riset & perguruan tinggi nasional ini menambahkan bahwa disamping pendanaan jangka panjang, faktor lain yang menentukan keberlanjutan riset dan inovasi bidang life science adalah bagaimana membangun komunikasi yang baik antara industri, akademisi, pemerintah dan komunitas. Karena faktanya, ada beberapa penelitian yang sudah dilakukan oleh perguruan tinggi, ternyata tidak bisa dipakai oleh industri, karena belum sesuai dengan standar kebutuhan industri.

“Forum ini arena sinkronisasi antara kebutuhan industri dengan penelitian perguruan tinggi & lembaga riset. Jika telah sinkron maka industri seperti Bio Farma dengan senang hati akan menindaklanjuti dan nantinya diproduksi secara komersial untuk melayani kebutuhan masyarakat. Saya ini juga peneliti, makanya saya sangat yakin jika sering ketemu walaupun awalnya sering berbeda pendapat, lama-lama akan muncul chemistry dan terjadi sinkronisasi,” ujar Neni.

Neni memaparkan lebih lanjut tentang kendala riset, ada satu permintaan yang ingin didiskusikan oleh para peneliti seperti dirinya dengan pemerintah selaku pemegang regulasi, yaitu kemungkinan pembuatan jalur khusus untuk impor bahan dan material habis pakai (consumable) untuk keperluan riset.

“Selama ini perlakuan di Bea Cukai masih menyerupai prosedur pengadaan barang komersial, sehingga memerlukan aneka perijinan dari berbagai instansi yang butuh waktu untuk pengurusannya. Percepatan riset sulit tercapai tanpa upaya penyederhanaan prosedur dan percepatan pengadaan bahan & material riset yang didatangkan dari luar negeri. Hal itu senafas dengan PMK no 17/2017 yang memuat rencana aksi percepatan pengembangan bahan baku obat dan produk biologi,”pungkasnya.

Comments

Komentar Disini