Corona Ancam Usaha Peternak Broiler Tutup

0
115
Ilustrasi pedagang ayam / Jawapos.com

Destinasi Bandung-Corona Ancam Usaha Peternak Broiler Tutup.
Ditengah kekhawatiran penyebaran virus Corona (Covid -19) dan pemberlakuan Pembatasan Sosial Skala Besar (PSSB) yang menyebabkan terbatasnya aktifitas masyarakat mengakibatkan anjloknya pembelian ayam hidup ditingkat peternak pada level Rp. 7.000 – 8.000 rupiah/kg di wilayah Jawa Barat dan Banten.

Hal ini terkonfirmasi berdasarkan informasi dari peternak broiler sukabumi, Nur.

“Di wilayah Sukabumi, sejak jumat lalu (3/4) harga ayam anjlok ke harga 7.000 rupiah/kg dikandang, kondisi ini sangat memberatkan kami sebagai peternak. Dimana harga pokok produksi kami 19.000
rupiah per kg,” papar Nur.

Hal serupa dialami Asrul peternak Banten yang menginformasikan harga ayam di wilayah Banten jatuh diharga 8.000 rupiah/kg.

“Kondisi ini semakin membuat kami terpuruk. Corona menambah kerugian kami, dimana sebelumnya kami juga mengalami
kerugian sepanjang akhir 2018 sampai dengan sebelum Corona. Harga ayam selalu jauh dibawah harga acuan pembelian pemerintah Permendag No 7 tahun 2020 dimana harga pembelian ayam hidup dipeternak minimal 19.000 rupiah/kg” ungkap Asrul,”ujarnya.

Sementara itu pantauan harga daging ayam dipasaran masih berkisar diharga Rp.30.000 – 36.000 rupiah/kg.

“Perbedaan harga yang sangat jauh ini membuat usaha kami terpukul, kami menelan kerugian kurang lebih Rp.10.000 rupiah/kilogram. Jika kondisi ini terus berlanjut dan tidak ada solusi dari pemerintah semua usaha peternak tutup. Karena sejak agustus 2018 lalu sampai sebelum adanya Corona usaha peternakan kami selalu merugi dikarenakan harga ayam hidup yang selalu jauh dibawah harga acuan pemerintah,” papar Nur.

Tidak berjalannya penegakan Peraturan Menteri Perdagangan nomor 7 tahun 2020 tentang harga pembelian ayam hidup minimal Rp.19.000 rupiah/kg mengindikasikan pemerintah tidak hadir untuk menyelesaikan permasalahan perunggasan dua tahun terakhir terutama saat menghadapi Corona.

“Belum ada terobosan solusi dari pemerintah untuk menyelesaikan permasalahan yang dihadapi peternak selama dua tahun terakhir.

Belum lagi dikabarkan harga pakan juga akan mengalami kenaikan dikarenakan menguatnya harga dollar karena Corona. Jika ini benar dan kondisi ini berlanjut sampai 1 tahun mendatang populasi seluruh peternak mandiri akan habis” sesal Asrul.

Nur maulana kumpulan peternak mandiri sukabumi cianjur Iwan asrul sani kumpulan peternak banten (carita pandeglang ) Harga Ayam Priangan Timur turut Anjlok Peternak Rakyat sangat terpukul dengan harga ayam yg sangat jelek ( Rp 6.000 ) / kg ayam hidup
di kandang.

Harga ayam hidup yang jelek ( dibawah HPP ) sudah berlangsung selama 19 bulan ini sangat memukul perekonomian peternak karena hutang makin banyak.

Kondisi ini makin parah dengan datangnya pandemi covid -19 yg mengakibatkan serapan pasar turun hampir 35%. Orang malas ke pasar, jam buka pasar yang dibatasi, akibatnya ayam numpuk dimana
mana, karena ayam susah dijual.

Untuk Priangan timur sendiri kondisi harga ayam hidup sangat memprihatinkan, bahkan penawaran broker sampai Rp 5.000 / kg hidup.

Hal ini dikarenakan banyaknya pembangunan kandang baru dengan kapasitas besar. Selain itu kiriman ayam dari jateng dengan harga yang sangat murah ( yang penting laku ), semakin menambah penderitaan peternak Rakyat Priangan.

Dalam kondisi seperti ini, sudah seharusnya pemerintah ( direktorat Peternakan ( PKH ) dan direktorat perdagangan ) mencarikan solusi, jalan keluar dan aksi nyata.

Kalau peternak yang bisa dilakukan untuk sekedar mempertahankan kebutuhan hidup yaitu dengan menjual ayam langsung ke konsumen dengan cara keliling kampung mengecer jualan ayam ekoran karena harga lebih baik. Bayangkan sama bandar ditawar Rp 5000 / kg hidup, tapi dengan jualan langsung harga bisa Rp 10.000/ kg.

Inilah situasi riil yang harus dipikirkan pemerintah, karena kalau tidak cepat diatasi maka ancaman peternak gulung tikar sudah didepan mata. Artinya pengangguran makin bertambah, dan rawan sosial karena perut lapar.

Jadi untuk Priangan Timur ada 2 masalah yang krusial :
1. Maraknya pembangunan kandang baru dengan kapasitas besar, mengakibatkan penambahan supply ayam tidak sebanding dengan kebutuhan / serapan pasar.
2. Banyaknya kiriman ayam dari jateng juga menambah supply ayam di Priangan, parahnya lagi harga lebih murah dari Priangan Timur.
3. Pandemi covid-19 makin memperburuk kondisi peternak, karena serapan turun dan harga ayam.

Comments

Komentar Disini