Jabar Outlet Seluller Gelar Gathering Outlet Bandung ( Goban)

0
50

Destinasi Bandung- Jabar Outlet Seluller Gelar Gathering Outlet Bandung ( Goban). Saat ini bisnis seluler berkembang begitu cepat dampak dari pesatnya kemajuan teknologi dan informasi, serta tingginya daya beli masyarakat terhadap kebutuhan komunikasi di era digital.

Di satu sisi, makin maraknya pelaku usaha seluler berbasis modern channel yang semakin masif, berdampak secara langsung dan drastis terhadap penurunan omset outlet-outlet yang berbasis tradisional channel.

Untuk mencari solusi agar keberlangsungan usaha seluler khususnya yang berbasis tradisional channel agar tetap hidup, Jabar Outlet Seluler (JOS) yang merupakan Dewan Pimpinan Daerah Kesatuan Niaga Cellular Indonesia (DPD KNCI) menggelar Gathering Outlet Bandung (Goban) di Kampung Batu Malakasari, Baleendah, Kab. Bandung, Rabu (18/12/2019).

“Persoalan tersebut menjadi perhatian kami. Karena, bagaimanapun di era sekarang ini banyak menjamur online shop, modern channel dan lainnya. Kami ingin menunjukkan bahwa orang-orang yang mengais rejeki di konter atau tradisional outlet itu banyak,” ujar Ketua pelaksana gathering outlet, Faturochman.

Kegiatan tersebut, kata Faturochman, juga dalam rangka menyatukan seluruh stake holder dan membina tali silaturahmi antar outlet, pedagang partai, pedagang eceran, pedagang keliling, pedagang nomor cantik, pedagang assesoris, server pulsa dan lainnya, yang berada di Bandung Raya.

“Acara ini dihadiri sekitar seribu orang peserta outlet. Kami lakukan sharing bisnis untuk mempertahankan konter tradisional channel (sesama pedagang yang bergerak di bidang telekomunikasi) di era perdagangan digitalisasi ini,”ujarnya.

Lebih lanjut Faturohman mengatakan, untuk menunjukkan eksistensi dan keberadaan para pengusaha outlet tradisional channel yang bergantung dari dunia telekomunikasi, pihaknya pun melakukan pendataan atau registrasi

“Masyarakat yang hidup dan bergantung dari dunia telekomunikasi itu banyak. Makanya kami butuh data dari teman outlet se-Indonesia khususnya yang di Bandung Raya karena jadi tolak ukur telekomunikasi,”bebernya.

Selain itu, terkait kebijakan dari Pemerintah Pusat terkait aturan registrasi yang menggunakan Nomor Induk Kependudukan (NIK) dengan batasan 3 simcard, yang dinilai sangat merugikan para outlet tradisional channel.

“Pemerintah tidak bisa mengambil suatu kebijakan tanpa didasari imbasnya seperti apa. Apalagi kita outlet merasakan banget. Bahkan saya pribadi pada 2017 mengalami kerugian sekitar Rp 420 juta, karena kartu banyak yang hangus tidak laku terjual,”paparnya.

Pihaknya mengaku setuju dengan kebijakan pemerintah, bahwa registrasi simcard harus sesuai NIK pribadi. Namun, yang menjadi persoalan yaitu pembatasan registrasi yang hanya untuk 3 simcard.

Kebijakan tersebut pun sempat memicu ketidaksepakatan para pelaku usaha seluler tradisional channel di bawah KNCI dan menggelar demo pada 2018 lalu, yang mana di Jawa Barat terpusat di Gedung Sate. Setelahnya, KNCI melakukan gugatan ke Mahkama Agung (MA) dengan tuntutan salah satunya masalah registrasi 1 NIK 3 simcard, yang saat ini masih menunggu hasilnya.

“Harapan kami, pemerintah dalam menerapkan kebijakan jangan semena-mena atau dari satu sisi saja. Tolong kami libatkan, karena kami yang merasakan langsung dengan konsumen,”pungkasnya

Comments

Komentar Disini