Mengetahui Lebih Dekat Sejarah Gedung Merdeka Bandung

0
227
Gedung Merdeka / Destinasi Bandung

Destinasi Bandung-Mengetahui Lebih Dekat Sejarah Gedung Merdeka Bandung. Bandung kota yang memiliki segudang daya tarik untuk dikunjungi, selain terkenal oleh kota Fashion karena banyaknya Factory Outlet atau distro-distro dan clothing-clothing yang terkenal di Indonesia. Ternyata di Kota ini terdapat daya tarik lain, diantaranya gedung-gedung yang kokoh peninggalan pada zaman penjajahan Kolonial Belanda dengan arsitektur yang mampu menarik banyak perhatian pengunjung dalam negeri bahkan mancanegara.

Gedung Merdeka / Destinasi Bandung

Gedung Merdeka Bandung memiliki desain arsitektur yang masih kental dengan konsep Vintage yang terdapat pada gedung ini. Dengan konsep Vintage yang terdapat pada gedung ini membuat para wisatawan dalam negeri ataupun mancanegara wajib berkunjung ke tempat ini jika berlibur ke Kota Bandung. Selain wajib untuk dikunjungi, ternyata para pengunjung menjadikan Gedung Merdeka sebagai salah satu spot yang wajib untuk mengabadikan moment bersama teman, kerabat serta pasangan terkasih. Dengan desain arsitektur yang sangat Vintage tak jarang dijadikan sebagai salah satu spot untuk jadi Foto Prewedding.

Gedung Merdeka / Destinasi Bandung

Namun jika anda berkunjung ke tempat ini wajib mengetahui bagaimana sejarah yang terdapat pada Gedung Merdeka ini. Bangunan ini pertama kali dibangun pada tahun 1895 dan dinamakan Sociëteit Concordia, dan pada tahun 1926 bangunan ini direnovasi seluruhnya oleh Wolff Schoemacher, Aalbers dan Van Gallen.

Gedung Merdeka / Destinasi Bandung

Saat itu gedung ini digunakan sebagai tempat rekreasi dan sosialisasi oleh sekelompok masyarakat Belanda yang berdomisili di Kota Bandung dan sekitarnya. Pada hari libur terutama pada malam hari gedung ini dipakai untuk berdansa, menonton pertunjukan kesenian atau makan malam oleh para pegawai perkebunan, perwira, pembesar, pengusaha, dan kalangan lain yang cukup kaya.

Gedung Merdeka /Destinasi Bandung

Gedung ini sempat berganti nama menjadi Dai Toa Kaikan pada masa kedudukan Jepang digunakan sebagai puat kebudayaan. Disisi lain bagian kiri gedung ini diberi nama Yamato yang memiliki fungsi sebagai tempat minum-minum, yang kemudia terbakar pada tahun 1944.

Setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945, Gedung Merdeka ini dijadikan sebagai markas pemuda Indonesia untuk menghadapi tentara Jepang dan selanjutnya menjadi tempat kegiatan Pemerintah Kota Bandung. Pada tahun 1946-1950 gedung ini berfungsi kembali sebagai tempat rekreasi.

Saat itu, Gedung ini direnovasi dan namanya pun di ubah menjadi Gedung Merdeka oleh Presiden Indonesia, Soekarno tepatnya pada tanggal 7 April 1955 yang sebelumnya berganti nama Dai Toa Kaikan pada masa kedudukan Jepang.

Pada tahun 1955, setelah terbentuk Konstituante Republik Indonesia sebagai hasil pemilihan umum. Gedung Merdeka dijadikan sebagai Gedung Konstituante. Karena Konstituante dipandang gagal dalam melaksanakan tugas utamanya, yaitu menetapkan dasar negara dan undang-undang dasar negara. Pada 5 Juli 1959, Konstituante dibubarkan melalui Dekrit Presiden. Selanjutnya pada tahun 1960, Gedung Merdeka dijadikan tempat kegiatan Badan Perancang Nasional yang kemudian menjadi Gedung Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara (MPRS).

Gedun Merdeka / Destinasi Bandung

Meskipun Fungsi Gedung ini berubah-ubah dari waktu ke waktu, perubahan pun sejalan dengan yang dialami dalam perjuangan mempertahankan, menata dan mengisi kemerdekaan Indonesia Republik Indonesia. Pada 1965, di gedung tersebut berlangsung Konferensi Islam Afrika Asia.

Setelah meletus pemberontakan G30S, Gedung Merdeka dikuasai oleh instansi militer dan sebagian dari gedung tersebut dijadikan sebagai tempat tahanan politik G30S. lalu pada bulan Juli 1966, pemeliharaan Gedung Merdeka diserahkan oleh pemerintah pusat kepada Pemerintah Daerah Tingkat I Provinsi Jawa Barat, selanjutnya oleh Pemerintah Daerah Tingkat I Provinsi Jawa Barat diserahkan lagi pelaksanaannya kepada Pemerintah Daerah Tingkat II Kotamadya Bandung.

Pada tanggal 6 Juli 1968, MPRS mengubah surat keputusannya dengan ketentuan bahwa yang diserahkan adalah bangunan induk gedung, sedangkan bangunan-bangunan lainnya yang terletak di bagian belakang masih tetap menjadi tanggung jawab MPRS.

Tahun 1969, pengelolaan gedung diambil alih kembali oleh Pemerintah Daerah Tingkat I Jawa Barat dari Pemerintah Daerah Tingkat II Kotamadya Bandung. Lalu tepat pada bulan Maret tahun 1980, Gedung ini kembali dipercaya menjadi tempat peringatan Konferensi Asia Afrika yang ke 25. Pada puncak peringatannya diresmikan Museum Konferensi Asia Afrika oleh Presiden Republik Indonesia kedua, Soeharto.

Comments

Komentar Disini