Menristek / KBRIN Dukung Bio Farma Jadi Industri Bebasis Inovasi

0
30

Destinasi Bandung- Menristek / KBRIN Dukung Bio Farma Jadi Industri Bebasis Inovasi. Menteri Riset Teknologi / Kepala Badan Riset Inovasi Nasional Bambang P.S Brodjonegoro,mengadakan kunjungan kerja ke Bio Farma pada tanggal 12 Desember 2019. Kunjungan tersebut diterima langsung oleh Direktur Utama Bio Farma, Honesti Basyir beserta jajaran Board of Executives Bio Farma.

Kunjungan ini, bertujuan untuk melihat perkembagan inovasi Riset dan Pengembangan yang dilakukan oleh Bio Farma, melalui mekanisme kerjasama riset dan konsorsium bersama Perguruan Tinggi yang ada di Indonesia, dan juga kerjasama riset dengan negara lain. Kunjungan kerja ini, Bambang P.S Brodjonegoro didampingi oleh Plt. Deputi Penguatan Inovasi Jumain Appedan Direktur Inovasi Industri kemenristek/BRIN ,Santosa Yudo Warsono.
Dalam Sambutannya Bambang PS Brodjonegoro mengatakan Kemenristek / BRIN, pihakn sudah mengenal Bio Farma sebagai industri yang aktif melakukan riset dan hilirisasi bersama lembaga penelitian.

“Kami melihat bahwa Bio Farma adalah salah satu industri yang sudah secara intens melakukan hilirisasi hasil penelitian, bersama lembaga penelitian seperti LIPI dan BPPT maupun Perguruan Tinggi dan Bio Farma sudah terlibat langsung dalam ekosistem inovasi dimana pihak Bio Farma berfungsi sebagai pihak dunia usaha yang berupaya agar riset yang dilakukan oleh universitas dan lembaga tadi berujung pada produk yang nantinya dibutuhkan oleh masyarakat”, ujar Bambang PS Brodjonegoro.

Bambang menambahkan tujuan datang ke Bio Farma untuk melihat fasilitas R&D yang terkait dengan Organisasi Kerjasama Islam dimana Bio Farma menjadi center of excellence dari pengembangan serum dan vaksin untuk negara OKI dan Indonesia melalui Bio Farma yang paling berpengalaman diantara negara OKI.
Sementara itu, dalam sambutan Honesti Basyir, Bio Farma yang sudah menjadi holding farmasi akan menjadi pilar untuk bisa mengembangkan produk health security sesuai arahan presiden. Kami juga bekerjasama dengan Perguruan Tinggi Negeri dan swasta, baik dalam negeri maupun swasta.

“Fungsi kami sebagai holding, adalah untuk membantu dalam hal hilirisasi produk. Karena tantangan berikutnya dari penelitian yang dilakukan oleh peruruan tinggi atau lembaga adalah, mengenai hilirisasi. Keberadaan holding farmasi sangat vital, karena disamping bisa memproduksi kita juga punya value chian yang langsung ke retail dengan jaringan retail dari Sabang sampai Marauke melalui group holding farmasi BUMN”, ujar Honesti.

Sementara itu, Senior Executives Vice President (SEVP) Penelitian dan Pengembangan Bio Farma, Adriansjah Azhari mengatakan, dalam meluncurkan produk terbaru, Bio Farma mengacu kepada prioritas yang dikeluarkan oleh Badan Kesehatan Dunia (WHO), seperti vaksin Typhoid Conjugate dan Rotavirus yang saat sedang Bio Farma persiapkan, untuk diluncurkan pada tahun 2021 dan 2022.

“Untuk vaksin Rotavirus masih dalam proses uji klinis tahap 2 dan untuk typhoid saat ini masih dalam uji klinis tahap 3, uji ini untuk melihat sejauh mana tingkat safety, eficacy dan quality dari vaksin, sebelum vaksin diluncurkan. Untuk pengujian klinis kami berkolaborasi bersama Universitas Gajah Mada”, ujar Adriansjah.

Dalam kunjungannya ke Bio Farma, Bambang PS Brodjonegoro sempat mengunjungi fasilitas laboratorium Center of Excellence yang terletak di dalam kampus Bio Farma. Laboratorium ini telah menjadi rujukan bagi negara – negara yang tergabung dalam Organisasi Kerjasama Islam (OKI) untuk pelatihan dan sharing experience and knowledge dari Bio Farma tentang pembuatan vaksin yang sesuai dengan standar dari WHO.
Honesti Basyir pun memberikan laporan bahwa lab yang diresmikan pada tahun 2019 ini, telah dikunjungi oleh beberapa negara, seperti pada 2 – 9 Desember 2019 yang lalu, negara Senegal mengunjungi lab ini dalam kegiatan Reverse Linkage Senegal – Indonesia yang merupakan bagian dari kerjasama Selatan – Selatan dari Bappenas dan Islamic Development Bank (IsDB). Kemudian pada bulan Oktober 2019 yang lalu sebanyak 16 Delegasi dari 16 Negara OIC mengikuti pelatihan mengenai Workshop on Cold Chain System Vaccine Management.

Target pembentukan lab CoE ini adalah untuk menciptakan kemandirian diantara negara – negara yang tergabung dalam (OKI) berdasarkann pengalaman Bio Farma yang produknya sudah digunakan di lebih dari 140 negara, selain untuk membuka potensi pasar baru di negara – negara benua Afrika yang memiliki nilai strategis untuk membuka pintu gerbang tujuan ekspor nontradisional dan berbasis teknologi.

Comments

Komentar Disini