PP Aisyiyah Gelar Talkshow Edukasi Pangan Sehat dan Gizi Seimbang

0
64

Destinasi Bandung–PP Aisyiyah Gelar Talkshow Edukasi Pangan Sehat dan Gizi Seimbang. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik ( BPS), Indonesia akan memiliki bonus demografi dimana besarnya penduduk usia produktif (15 tahun – 64 tahun) dalam suatu negara. Bonus demografi yang dimiliki Indonesia saat ini akan berakhir tahun 2036 nanti. Karena itu pemerintah perlu melakukan langkah-langkah antisipasi agar tepat di 100 tahun bangsa Indonesia pada 2045 penduduk berusia lanjut (lansia) bisa terurus, dan calon-calon generasi emas yang akan menjadi penerus bangsa tumbuh sehat dan cerdas.

Bonus demografi dapat berdampak negatif bagi bangsa apabila masalah kesehatan anak dan gizi buruk yang saat ini menjadi beban pemerintah tidak segera di atasi. Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018 menunjukan adanya perbaikan status gizi pada balita di Indonesia dibandingkan dengan Riskesdas 2013. Proporsi status gizi sangat pendek dan pendek turun dari 37,2% menjadi 30,8%. Demikian juga proporsi status gizi buruk dan gizi kurang turun dari 19,6% menjadi 17,7%. Meski demikian, menurut Indonesia masih belum lepas dari negara darurat gizi buruk, karena menurut batasan prevalensi stunting yang ditetapkan WHO adalah 20%.

Berbanding terbalik dengan gizi, prevalensi Penyakit Tidak Menular justru mengalami kenaikan dibandingkan dengan Riskesdas 2013, antara lain kanker, stroke, penyakit ginjal kronis, diabetes melitus, dan hipertensi. Berdasarkan pemeriksaan gula darah, diabetes melitus naik dari 6,9% menjadi 8,5%; dan hasil pengukuran tekanan darah, hipertensi naik dari 25,8% menjadi 34,1%.
Mengantisipasi hal itu, Yayasan Abhipraya Insan Cendekia Indonesia (YAICI) bersama PP Aisyiyah menjalin kerjasama edukasi gizi untuk masyarakat Pangan Sehat Gizi Seimbang. Edukasi gizi tersebut akan dilaksanakan secara bertahap di sejumlah kota di Indonesia, diantaranya Bandung, Banten dan NTB.
Edukasi dan talkshow Pangan Sehat Gizi Seimbang pertama dilakukan di kota Bandung pada Kamis 28 Maret 2019, sekaligus dilakukan penandatanganan kerjasama YAICI dan PP Aisyiyah. Hadir dalam kegiatan Ketua Majelis Kesehatan PP Aisyiyah Chairunnisa, Ketua Harian YAICI Arif Hidayat, dr. Aris Primadi,Sp.A(K) Ketua IDAI Jawa Barat, Kepala Bidang Informasi Komunikasi BPOM Jawa Barat Rusiana .

Ketua Majelis Kesehatan PP Aisyiyah , Chairunnisa, mengatakan Aisyiyah sebagai organisasi perempuan di Indonesia turut berperan mengawal generasi emas 2045. Saat Indonesia berusia 100 tahun, maka 70% dari jumlah penduduknya adalah angkatan kerja atau usia produktif.

“Karenanya, mulai saat ini kita harus bisa memastikan kesehatan terutama gizi agar menghasilkan angkatan kerja yang berkualitas dan menjadi generasi yang kreatif, inovatif, produktif dan berkarakter dan tidak menjadi beban bagi Negara,” ujarnya.

Ketua DPW Aisiyah Jabar Ia Kurniati dam sambutannya mengatakan, Aisiyah telah mencanangkan kampung yang sehat yaitu pangan yang sehat dan gizi yang seimbang.

“Bagaimana mau berdakwah kalau pangan dan gisinya tidak seimbang. Semoga dengan pembekalan ini wawasan akan bertambah , dan menjadi masyarakat yang sehat,”ujarnya.

Ketua Harian YAICI Arif Hidayat mengatakan pemenuhan hak tumbuh, kembang, kesehatan, dan pendidikan anak pada masa sekarang menjadi faktor penting agar dapat memikul tanggung jawab sebagai pemimpin Indonesia pada masa depan. Saat kita sedang menghadapi bonus demografi juga dihadapkan pada masalah gizi buruk. Sebagian anak mengalami obesitas, sedangkan anak-anak lainnya mengalami hambatan pertumbuhan dan kekurangan berat badan. Jika hal ini tidak segera dihadapi, maka bonus demografi hanya akan menjadi beban bagi negara, jelas Arif Hidayat.

Dalam kesempatan itu, Arif Hidayat kembali mengingatkan salah satu kendala dalam menciptakan generasi berkualitas adalah edukasi masyarakat khususnya ibu tentang gizi. Masih banyak masyarakat dan ibu yang belum teredukasi tentang asupan gula garam dan lemak.

“Hal itu terlihat dari temuan-temuan kami di lapangan dimana masih ada ibu-ibu yang memberi susu kental manis untuk asupan gizi anak. PAdahal BPOM telah mengeluarkan aturan tentang penggunaan susu kental manis,” jelas Arif.

Kepala Bidang Informasi Komunikasi BPOM Jawa Barat Rusiana MSc. Yang hadir sebagai narasumber juga menegaskan agar ibu selalu melakukan Cek KLIK saat membeli produk, yaitu cek kemasan, label, izin edar dan kadaluwarsanya. Cek label susu kental manis saat membeli, apakah ada peringatannya? Peringatan ditulis dengan tinta merah, jangan berikan susu kental manis untuk bayi. Susu kental manis itu aman, tapi kita juga harus memperhatikan kandungan gizinya,”jelas Rusiana.

Comments

Komentar Disini