Konferensi Internasional ‘KILIC 2021’ Upaya Menduniakan Warisan Bangsa

“Berkonsultasi dengan (ahli) kekayaan lokal (juga penting),” ungkap Joshua.

Ia juga menambahkan, menceritakan kembali sejarah pada masyarakat lokal saat melakukan penelitian terkait indigenous knowledge sangatlah penting untuk menjalin komunikasi, dan untuk mendengar cerita mereka.

Pesan lain dari Shamila M. Shuhidan adalah, hal terpenting dari pengetahuan lokal adalah pola perilaku masyarakat.

Dengan topik “The Role of Library and Information Science in Preserving Indigenous Knowledge as Cultural Heritage,” 426 partisipan dari Nigeria, Bangladesh, Malaysia, dan Indonesia, disuguhkan banyak wawasan baru.

Pentingnya para profesional di bidang informasi dan perpustakaan mendokumentasikan pengetahuan lokal, bersinergi dengan stakeholders, membangun hubungan baik dengan berbagai pihak, hingga menguasai teknologi menjadi poin-poin yang dibahas para pembicara.

Ditambah dengan informasi terkini terkait kekayaan budaya warisan bangsa yang disampaikan keynote speakers, Hendro Subagyo, M.Eng. (Kepala Pusdatin BRIN) dan Dra. Woro Titi Haryanti, M.A (Prime Secretariat Perpusnas RI), menunjukkan betapa kayanya Indonesia.

Dengan karya tulis ilmiah pada open access journal yang menempati posisi ke-2 di dunia serta koleksi manuskrip yang berjumlah 12.253 dan akan terus bertambah, menjadikan Indonesia kaya akan pengetahuan, termasuk pengetahuan lokal.